Verified Original
(وعدة الأمة) الحامل إذا طلقت طلاقا رجعيا أو بائنا (بالحمل) أي بوضعه بشرط نسبته إلى صاحب العدة. وقوله: (كعدة الحرة) الحامل أي في جميع ما سبق، (وبالأقراء أن تعتد بقرأين). والمبعضة والمكاتبة وأم الولد كالأمة، (وبالشهور عن الوفاة أن تعتد بشهرين وخمس ليال، و) عدتها (عن الطلاق أن تعتد بشهر ونصف) على النصف، وفي قول شهران. وكلام الغزالي يقتضي ترجيحه. وأما المصنف فجعله أولى حيث قال: (فإن اعتدت بشهرين كان أولى). وفي قول عدتها ثلاثة أشهر، وهو الأحوط - كما قال الشافعي ﵁ وعليه جمع من الأصحاب.
(Dan Iddah perempuan (golongan budak perempuan/Amah)) hamil manakala dicerai dalam (jalur cerai kembali/Raj'i (ataupun talak putus/Ba'in)) hitungannya juga dititikkan pada patokan persalinan anak bawaannya) sama persis tapi diisyaratkan benih itu harus punya pertalian valid ke yang (mencetuskan putusan perceraiannya). Lantas pernyataan penulis (sebagaimana format/tenggat hitung durasi Iddah para perawan bebas (Hurrah/Merdeka) yang mengandung janin), hal tersebut disamaratakan atas (hukum-hukum) paparan lampau yang dijelaskan utuh, (Sedang kalau kalkulasi memakai rezim/aliran Quru' (siklus menstruasi haid) hitung iddahnya sekadar disusut jadi dua quru' (saja)). Perkara budak yang posisinya campuran merdeka (muba'adhah/yang mengangsur pembebasan dan melahirkan putra majikan (Ummu walad)) posisinya persis disamakan di kasta para budak (Amah) tadi. (Dan bilamana aliran kalkulasinya (Bulan Qamariyah) atas kejatuhan Janda cerai mati (tenggat temponya sekadar) menempuh tempo dua (Bulan) genap ditambahi plus lima buah petang (malam); Dan sedangkan) iddah khusus (kategori perceraian talak (hidup)) maka (durasi hitung mundurnya/iddahnya (ialah) separuhnya / setengah bulan kalender murni). Pada riwayat lain (menyatakan segenap dua (Bulan)). Analisa pendapat (Sang Hujjatul Islam (Al-Ghazali)) lebih kental menitikberatkan ketetapan (Tarjih) kepadanya. Walau (kalau) dikroscek ke Mushannif (justru) menyebutnya hal prioritas lebih utama lewat kiasan redaksi, (Yakni sekiranya beriddah lantas genap di tempo dua (bulan) tentulah itu sikap yang lebih joss/utama). Pada (pendapat) lain tenggat waktunya ditetapkan pas ke batas Tiga bulan mutlak. Opsi ini kental muatan (kehati-hatian/ihtiyat)—sesuai kutipan lisan sang Mujtahid Al-Imam (Asy-Syafi'i)—Radiyallahu anhu. Dan pilar (qoul) inilah yang dipakai menyangga banyak pendapat cendekiawan (Ashab Asy-Syafi'iyah).