Kitab Kuning

• دفن الميت

Verified Original
دفن الميت
Memakamkan Jenazah
Verified Original
(ويُدفن) الميت (في لحد مستقبلَ القبلة). واللَّحْد بفتح اللام وضمها وسكون الحاء ما يحفر في أسفل جانب القبر من جهة القبلة قدر ما يسع الميت ويستره. والدفن في اللحد أفضل من الدفن في الشق إن صلبت الأرض. والشق أن يحفر في وسط القبر كالنهر، ويبنى جانباه، ويوضع الميت بينهما ويسقف عليه بلبن ونحوه، ويوضع الميت عند مؤخر القبر. وفي بعض النسخ بعد مستقبل القبلة زيادة، وهي:
(Dan) jenazah (dikuburkan di dalam liang lahad dalam keadaan menghadap kiblat). Dan lahad—dengan difathahkan huruf lamnya atau didammahkan, serta disukunkan huruf ha'nya—adalah lubang yang digali di dasar liang kubur pada sisi yang menghadap kiblat dengan ukuran yang muat untuk menampung jenazah dan menutupinya. Dan menguburkan di dalam lahad lebih utama daripada menguburkan di dalam syaq (liang cempung) jika tanah kuburannya padat dan keras. Dan syaq adalah lubang yang digali di tengah-tengah kuburan layaknya bentuk parit/sungai, lalu kedua sisinya dibangun (diperkuat), dan jenazah diletakkan di antara keduanya lalu bagian atasnya ditutup dengan atap dari bata dan sejenisnya, dan jenazah diletakkan di bagian belakang liang kubur. Dan di sebagian naskah terdapat teks tambahan setelah kata 'menghadap kiblat', yaitu:
Verified Original
(ويُسَلُّ من قِبَل رأسه) سلا (برفق)، لا بعنف (ويقول الذي يلحده: «بِسْمِ الله وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ».
(Dan ia dimasukkan secara membujur dari arah kepalanya) ditarik masuk perlahan (dengan lembut), bukan dengan kasar, (dan orang yang menempatkannya ke liang lahad mengucapkan: 'Bismillah wa 'alaa millati rasuulillaah ﷺ' [Dengan menyebut nama Allah dan di atas agama Rasulullah ﷺ]).
Verified Original
ويضجع في القبر بعد أن يعمق قامة وبسطة)، ويكون الاضطجاع مستقبل القبلة على جنبه الأيمن؛ فلو دُفن مستدبرَ القبلةِ أو مستلقيا نُبش، ووُجِّهَ للقبلة مالم يتغير. (ويسطح القبر) ولا يسنم، (ولا يبنى عليه ولا يجصص)، أي يكره تجصيصه بالجص وهو النورة المسماة بالجير.
(Dan ia dibaringkan di dalam kuburan setelah kuburannya digali sedalam postur tubuh manusia berdiri ditambah lambaian tangannya/setinggi tubuh dan rentangan tangan), dan pembaringannya (harus) menghadap kiblat bertumpu pada lambung kanannya; maka jika ia telanjur dikuburkan dalam keadaan membelakangi kiblat atau telentang, maka kuburannya harus dibongkar kembali, lalu jenazahnya dihadapkan ke kiblat selama kondisinya belum berubah (membusuk). (Dan gundukan kuburan dibuat merata/datar) dan tidak dibuat cembung (seperti punuk), (dan tidak boleh dibangun bangunan di atasnya, serta tidak boleh dikapur), maksudnya dimakruhkan mengapurnya dengan bahan jishsh (gips) yaitu bahan kapur yang disebut dengan kapur tohor (jier).