Verified Original
واستثنى المصنف من ذلك ما ذكره بقوله: (ويجوز ترك) استقبال (القبلة) في الصلاة (في حالتين: في شدة الخوف) في قتال مباح، فرضا كانت الصلاة أو نفلا؛ (وفي النافلة في السفر على الراحلة). فللمسافر سفرًا مباحا ولو قصيرا التنفلُ صوب مقصده. وراكب الدابة لا يجب عليه وضع جبهته على سرجها مثلا، بل يومئ بركوعه وسجوده؛ ويكون سجوده أخفضَ من ركوعه، وأما الماشي فيتم ركوعه وسجوده، ويستقبل القبلة فيهما، ولا يمشي إلا في قيامه وتشهده.
Mushannif mengecualikan dari hal tersebut dengan perkataannya: (Dan boleh meninggalkan) menghadap (kiblat) di dalam salat (pada dua kondisi: saat ketakutan yang sangat) di dalam pertempuran yang sah/dibolehkan, baik salat fardu maupun sunah; (dan pada salat sunah di saat bepergian di atas kendaraan). Maka bagi seorang musafir dengan bepergian yang sah kendati perjalanannya dekat, boleh salat sunah dengan menghadap ke arah tujuannya. Dan bagi penunggang kendaraan tidak wajib baginya meletakkan dahi pada pelananya, melainkan cukup memberi isyarat ruku dan sujud; dan isyarat sujudnya harus lebih menunduk dari ruku-nya. Adapun pejalan kaki, maka ia tetap menyempurnakan ruku dan sujud, serta menghadap kiblat pada keduanya, dan ia tidak boleh berjalan kecuali pada saat posisi berdiri dan tasyahud.