Kitab Kuning

• من لا يقع طلاقه

Verified Original
من لا يقع طلاقه
Pihak yang Talaknya Tidak Jatuh
Verified Original
(وأربع لا يقع طلاقهم: الصبي، والمجنون). وفي معناه المغمى عليه، (والنائم، والمكرَه) أي بغير حق؛ فإن كان بحق وقع. وصورته كما قال جمعٌ إكراه القاضي للمُولي بعد مدة الإيلاء على الطلاق. وشرط الإكراه قدرة المُكرِه - بكسر الراء - على تحقيق ما هدد به المُكرَه - بفتحها- بولاية أو تغلب، وعجز المكرَه - بفتح الراء - عن دفع المكرِه - بكسرها - بهرب منه أو استغاثة بمن يخلصه ونحو ذلك، وظنه أنه إن امتنع مما أكره عليه فعل ما خوَّفه. ويحصل الإكراه بالتخويف بضرب شديد أو حبس أو إتلاف مال ونحو ذلك. وإذا ظهر من المكرَه - بفتح الراء - قرينة اختيار، بأن أكرهه شخصٌ على طلاق ثلاث فطلق واحدةً وقع الطلاق. وإذا صدر تعليق الطلاق بصفة من مكلف ووجدت تلك الصفة في غير تكليف فإن الطلاق المعلق بها يقع بها. والسكران ينفذ طلاقه كما سبق.
(Dan empat golongan yang talak mereka tidak sah jatuh: Anak kecil, orang gila). Termasuk dalam makna orang gila adalah orang yang sedang pingsan (ayan), (orang yang tidur, dan orang yang dipaksa) yakni paksaan yang tidak dibenarkan oleh syariat (bighairi haqqin); adapun bila paksaan itu dilakukan secara hak maka talaknya jatuh sah. Bentuk ilustrasinya (paksaan secara hak) sebagaimana dijelaskan oleh sekumpulan ulama: adalah paksaan hakim kepada suami pelaku ila' setelah lewatnya batas waktu ila' untuk menceraikan. Dan syarat dikategorikan sebagai tindakan pemaksaan (ikrah) adalah: sang pemaksa (al-mukrih)—dengan kasrah pada huruf ra'—mampu mewujudkan ancaman yang dilontarkannya terhadap korban (al-mukrah)—dengan fathah—berkat kekuasaan atau dominasi yang dimilikinya, sementara sang korban tak berdaya untuk menghindar dari sang pemaksa dengan cara lari, meminta tolong kepada orang yang bisa menyelamatkannya, dan sebagainya, serta kuatnya dugaan dalam benak korban bahwa apabila ia menolak menuruti apa yang dipaksakan kepadanya, niscaya ancaman itu akan sungguh dieksekusi. Dan paksaan (ikrah) itu bisa terwujud melalui ancaman siksa pukulan berat, pemenjaraan, perusakan harta, dan semisalnya. Apabila kemudian timbul dari pihak yang dipaksa indikasi adanya keridaan hati (ikhtiyar)—misal: ia dipaksa seseorang agar menalak tiga, namun alih-alih nurut ia malah menalak satu—maka talaknya tersebut jatuh secara sah. Dan bilamana ada lontaran talak bersyarat (mu'allaq) yang diucapkan oleh seorang mukalaf (sadar, tidak dipaksa), lalu prasyarat tersebut kejadiannya terwujud justru saat sang suami sedang tidak dalam kondisi mukalaf, maka talaknya tetap dinyatakan jatuh sebab prasyarat itu terpenuhi. Adapun orang mabuk, maka talaknya terhitung sah (jatuh) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.